BLOK 11 POWER SUPPLY
Blok ini merupakan blok yang terakhir yang akan Penulis ulas dalam topik memahami blok-blok dasar TV. Artikel ini sekedar melengkapi beberapa artikel yang sebelumnya sudah pernah mengulas tentang SMPS TV antara lain : memahami blok-blok dalam SMPS, SMPS dengan transistor, SMPS TV Polytron, SMPS TV panasonic gold series.
Pada desain TV saat ini ditemui menggunakan power supply dengan switch mode, bukan transformator reguler/tradisional jadi sebut saja SMPS TV (SMPS, switch mode power supply). SMPS TV yang paling sederhana harus mampu mensupply/mengeluarkan tegangan B+, tegangan standby (v_standby) dan tegangan audio amplifier. Sebelum menjadi v_standby umumnya melalui tahap-tahap regulasi terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan tegangan standby yang diperlukan, misalnya 5V atau 3V3. Tegangan standby inilah yang mensupply microcontroller (IC program). Sedangkan B+ dari SMPS mensupply blok horisontal (FBT), dari trafo FBT inilah dikeluarkan supply-supply yang digunakan oleh blok-blok yang lain, misalnya vertikal output dan v-aux. Konfigurasi sumber dan jalur supply berbeda-beda tiap desain, merk atau model. Meski satu merk sekalipun kadang ditemui sumber supply blok output vertikal bersumber dari SMPS pada model tertentu dan pada model yang lain ditemukan bersumber dari FBT.
Desain kemampuan daya maksimal SMPS disesuaikan dibuat seefisien mungkin yaitu sangat mendekati konsumsi beban keseluruhan. Beban-beban pada TV, secara umum dapat diurutkan berdasarkan besar arusnya dari yang terbesar yaitu audio amplifier, v-aux (tegangan untuk IC chroma, tuner, accessories), supply B+, vertikal, v-standby dan supply katoda. Dari beberapa tegangan output dari SMPS, meski arusnya lumayan kecil tetapi tegangan lumayan besar, B+ merupakan tegangan output SMPS yang patut diperhitungkan konsumsi arus/dayanya.
DUA JENIS SMPS PADA TV
Banyaknya model SMPS yang ditemui dan untuk mempermudah dalam hal perbaikan SMPS dan analisa kerusakan maka secara umum Penulis bagi menjadi 2 jenis SMPS, yaitu SMPS yang dapat distandby (dikontrol) dan SMPS online.
1. SMPS Online
Ciri utama SMPS jenis ini adalah mengeluarkan tegangan yang tetap meski TV dimatikan dengan remot (standby), malah kadang tegangan outputnya terukur lebih tinggi ketika standby daripada ketika ON. TV-TV sasis china sering ditemui menggunakan SMPS jenis ini. Kelebihan TV yang memakai SMPS jenis ini adalah kemudahan dalam perbaikannya karena adanya kepastian besar B+ dan tegangan outputnya. Karena output dari SMPS tetap, maka dalam desain TV-nya harus dilengkapi dengan switch tegangan disana-sini menggunakan transistor-transistor, yang oleh beberapa pabrik dianggap sebagai salah satu titik kelemahan dan ‘pemborosan’. Meski tanpa beban, SMPS tetap bekerja mengeluarkan tegangan yang tetap sehingga error amp tetap bekerja, sebagai akibatnya error amp akan lebih cepat bergeser/tidak stabil.
2. SMPS yang dapat distandby
Konsumsi daya pada TV dibuat seminim dan seirit mungkin. Ibarat produsen otomotif yang berusaha membuat irit BBM pada produknya dengan hasil yang semaksimal mungkin.
Penggunaan arus pada TV ketika standby juga diperhitungkan, harus sekecil mungkin, bahkan ada beberapa produsen yang mengklaim bahwa daya yang dibutuhkan ketika standby berkisar 3 s/d 8W. Cara yang boros biaya dan tenaga yaitu dengan membuat power supply tersendiri menggunakan trafo/SMPS yang difungsikan sebagai supplier tegangan standby. Atau cara yang paling efektif dan murah adalah dengan ‘mengontrol’ SMPS utama dari televisi itu sendiri.
Smps yang dapat distandby mempunyai 2 kondisi tegangan output yang berbeda. Ketika standby, tegangan output terukur jauh sekali dari normalnya (bahkan sampai dalam kondisi berdenyut/goyang secara normalnya). SMPS diset untuk mengeluarkan tegangan sekecil mungkin ketika standby. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan mengeset blok Error Amp pada SMPS supaya SMPS mengeluarkan besar tegangan yang sesuai ketika standby atau ON. Sedangkan error amp adalah sub blok pada SMPS yang mengatur/menentukan tegangan output dari SMPS.
Ciri lain dari jenis ini adalah adanya komponen pengatur standby yang dikontrol oleh IC program. Komponen pengatur ini umumnya menyadap tegangan error yang masuk ke optocoupler. Ambil contoh saja TV Sharp Universe (STR-F6653), tegangan output B+ normalnya ketika TV menyala terukur 115V penuh yang ketika standby hanya terukur sekitar 8V berdenyut (goyang) dan memang begitu normalnya. Bila diamati, TV sharp dimaksud membutuhkan tegangan standby (v_standby) sebesar 3V3 yang mengambil dari 8V yang berdenyut tadi, jadi meskipun berdenyutnya sampai 5V sekalipun, tegangan standby 3V3 masih dapat terpenuhi, stabil dan normal berkat regulator 4M033 dan elko-elko sebagai penyimpan.
Banyak rekan Penulis yang masih terkecoh dengan SMPS yang dapat distandby, dikiranya kerusakan pada SMPS (dengan tidak penuhnya output B+nya dan output lainnya) padahal SMPS tersebut normal-normal saja hanya saja SMPS tersebut masih dalam mode standby (belum mendapatkan ‘komando’ untuk ON).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar