<

_____________________Wilujeng Sumping Di Blog Simkuring______________


welcome

Minggu, 10 April 2011



BLOK 11 POWER SUPPLY

OPTOCOUPLER
Photocoupler atau sering disebut optocoupler (photo/optic=cahaya, coupler penghubung) pada dasarnya terdiri dari 2 komponen dalam satu kemasan, yaitu LED dan phototransistor (transistor peka cahaya). Cahaya dari LED tersebut ‘dijatuhkan’ ke bidang penerimaan transistor pada jarak yang cukup sehingga transistor dapat bekerja berdasarkan intensitas cahaya yang dipancarkan dari LED. Secara sederhananya, bila kaki-kaki transistor adalah Basis, Colector dan Emitor maka kaki-kaki optocoupler adalah 2 kaki LED (basis), C dan E. Karena yang digunakan untuk ‘menggerakkan’ transistor adalah cahaya, maka didapatkan isolasi yang baik sekali. Pada sistem SMPS, optocoupler digunakan sebagai penghubung antara sub blok error amp (sekunder) dengan blok primer SMPS (nyetrum).

ERROR VOLTAGE DAN ERROR AMPLIFIER
Persyaratan utama sebuah power supply adalah kestabilan tegangan keluaran pada beban normalnya. Error amplifier dipakai untuk menyensor tegangan output SMPS (sekunder) untuk menghasilkan tegangan kesalahan (error voltage), besar tegangan yang salah ini harus ‘diberitahukan’ kepada blok primer melalui optocoupler (atau ada juga yang memakai trafo sinkronisasi SMPS). Segera setelah mendapatkan tegangan error, blok primer SMPS segera ‘mengembalikan’ tegangan outputnya ke tegangan yang telah ‘diprogramkam’ oleh error amplifier.
Komponen yang berfungsi sebagai error amp misalnya SE110 (sanken error 110V), akan ‘memprogram’ SMPS supaya mengeluarkan tegangan pada 110V. Bila beban meningkat, output SMPS akan turun sehingga SE110 akan mengeluarkan tegangan error, segera setelah mendapatkan tegangan error, blok primer segera menaikkan tegangan outputnya supaya tetap pada 110V, proses ini berlangsung dalam waktu yang cepat sekali.
Komponen-komponen lain yang dapat digunakan sebagai error amp SMPS adalah S1854 (toshiba), TL431, KA431 atau IC-IC op-amp. secara teknis dengan/tanpa tambahan beberapa komponen bantu, komponen-komponen tersebut dapat digantikan satu dengan yang lain. Khusus TL431, komponen ini merupakan komponen discrete jadi harus dilengkapi dengan komponen-komponen lainnya supaya dapat berfungsi sebagai error amp.
Seandainya tegangan error yang dikeluarkan oleh error amp disadap, kemudian diatur/dinonaktifkan tegangan errornya dengan komponen lain (misalnya transistor) yang dikontrol oleh IC program, maka secara praktis dapat mengatur tegangan output dari SMPS tersebut (standby).
Meskipun error amplifier umumnya terdapat pada sisi sekunder dari sistem SMPS, error amplifier merupakan bagian dari sistem SMPS secara keseluruhan. Jadi ketika proses perbaikan, error amplifier tidak boleh terlewatkan untuk dicek.



BLOK 11 POWER SUPPLY

Blok ini merupakan blok yang terakhir yang akan Penulis ulas dalam topik memahami blok-blok dasar TV. Artikel ini sekedar melengkapi beberapa artikel yang sebelumnya sudah pernah mengulas tentang SMPS TV antara lain : memahami blok-blok dalam SMPS, SMPS dengan transistor, SMPS TV Polytron, SMPS TV panasonic gold series.
Pada desain TV saat ini ditemui menggunakan power supply dengan switch mode, bukan transformator reguler/tradisional jadi sebut saja SMPS TV (SMPS, switch mode power supply). SMPS TV yang paling sederhana harus mampu mensupply/mengeluarkan tegangan B+, tegangan standby (v_standby) dan tegangan audio amplifier. Sebelum menjadi v_standby umumnya melalui tahap-tahap regulasi terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan tegangan standby yang diperlukan, misalnya 5V atau 3V3. Tegangan standby inilah yang mensupply microcontroller (IC program). Sedangkan B+ dari SMPS mensupply blok horisontal (FBT), dari trafo FBT inilah dikeluarkan supply-supply yang digunakan oleh blok-blok yang lain, misalnya vertikal output dan v-aux. Konfigurasi sumber dan jalur supply berbeda-beda tiap desain, merk atau model. Meski satu merk sekalipun kadang ditemui sumber supply blok output vertikal bersumber dari SMPS pada model tertentu dan pada model yang lain ditemukan bersumber dari FBT.
Desain kemampuan daya maksimal SMPS disesuaikan dibuat seefisien mungkin yaitu sangat mendekati konsumsi beban keseluruhan. Beban-beban pada TV, secara umum dapat diurutkan berdasarkan besar arusnya dari yang terbesar yaitu audio amplifier, v-aux (tegangan untuk IC chroma, tuner, accessories), supply B+, vertikal, v-standby dan supply katoda. Dari beberapa tegangan output dari SMPS, meski arusnya lumayan kecil tetapi tegangan lumayan besar, B+ merupakan tegangan output SMPS yang patut diperhitungkan konsumsi arus/dayanya.

DUA JENIS SMPS PADA TV
Banyaknya model SMPS yang ditemui dan untuk mempermudah dalam hal perbaikan SMPS dan analisa kerusakan maka secara umum Penulis bagi menjadi 2 jenis SMPS, yaitu SMPS yang dapat distandby (dikontrol) dan SMPS online.

   1. SMPS Online
      Ciri utama SMPS jenis ini adalah mengeluarkan tegangan yang tetap meski TV dimatikan dengan remot (standby), malah kadang tegangan outputnya terukur lebih tinggi ketika standby daripada ketika ON. TV-TV sasis china sering ditemui menggunakan SMPS jenis ini. Kelebihan TV yang memakai SMPS jenis ini adalah kemudahan dalam perbaikannya karena adanya kepastian besar B+ dan tegangan outputnya. Karena output dari SMPS tetap, maka dalam desain TV-nya harus dilengkapi dengan switch tegangan disana-sini menggunakan transistor-transistor, yang oleh beberapa pabrik dianggap sebagai salah satu titik kelemahan dan ‘pemborosan’. Meski tanpa beban, SMPS tetap bekerja mengeluarkan tegangan yang tetap sehingga error amp tetap bekerja, sebagai akibatnya error amp akan lebih cepat bergeser/tidak stabil.

   2. SMPS yang dapat distandby
      Konsumsi daya pada TV dibuat seminim dan seirit mungkin. Ibarat produsen otomotif yang berusaha membuat irit BBM pada produknya dengan hasil yang semaksimal mungkin.
      Penggunaan arus pada TV ketika standby juga diperhitungkan, harus sekecil mungkin, bahkan ada beberapa produsen yang mengklaim bahwa daya yang dibutuhkan ketika standby berkisar 3 s/d 8W. Cara yang boros biaya dan tenaga yaitu dengan membuat power supply tersendiri menggunakan trafo/SMPS yang difungsikan sebagai supplier tegangan standby. Atau cara yang paling efektif dan murah adalah dengan ‘mengontrol’ SMPS utama dari televisi itu sendiri.
      Smps yang dapat distandby mempunyai 2 kondisi tegangan output yang berbeda. Ketika standby, tegangan output terukur jauh sekali dari normalnya (bahkan sampai dalam kondisi berdenyut/goyang secara normalnya). SMPS diset untuk mengeluarkan tegangan sekecil mungkin ketika standby. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan mengeset blok Error Amp pada SMPS supaya SMPS mengeluarkan besar tegangan yang sesuai ketika standby atau ON. Sedangkan error amp adalah sub blok pada SMPS yang mengatur/menentukan tegangan output dari SMPS.
      Ciri lain dari jenis ini adalah adanya komponen pengatur standby yang dikontrol oleh IC program. Komponen pengatur ini umumnya menyadap tegangan error yang masuk ke optocoupler. Ambil contoh saja TV Sharp Universe (STR-F6653), tegangan output B+ normalnya ketika TV menyala terukur 115V penuh yang ketika standby hanya terukur sekitar 8V berdenyut (goyang) dan memang begitu normalnya. Bila diamati, TV sharp dimaksud membutuhkan tegangan standby (v_standby) sebesar 3V3 yang mengambil dari 8V yang berdenyut tadi, jadi meskipun berdenyutnya sampai 5V sekalipun, tegangan standby 3V3 masih dapat terpenuhi, stabil dan normal berkat regulator 4M033 dan elko-elko sebagai penyimpan.
      Banyak rekan Penulis yang masih terkecoh dengan SMPS yang dapat distandby, dikiranya kerusakan pada SMPS (dengan tidak penuhnya output B+nya dan output lainnya) padahal SMPS tersebut normal-normal saja hanya saja SMPS tersebut masih dalam mode standby (belum mendapatkan ‘komando’ untuk ON).


BLOK 10 MICROCONTROLLER

Microcontroller lebih sering disebut sebagai IC program, secara sederhana berfungsi sebagai pengontrol utama sekaligus sebagai interface/penghubung antara pemakai dengan produk elektronik (misalnya televisi).
Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang memahami dan mengenal IC program TV, yang terdiri dari bagian 1 Hardware dan Software, bagian 2 Bus dan Fungsi Spesifik Pin/Port dan bagian 3 Urutan Boot Up dan Troubleshooting. Sedangkan pada bagian ini Penulis coba untuk sekedar melengkapi artikel-artikel tersebut di atas.
Hampir semua desain TV saat ini menggunakan IC program yang tidak terpisah dengan IC chroma, melainkan sudah menyatu dengan IC prosesor video-chrominance-deflection/jungle (VCD). Diurut dari nenek moyang dan pabrik pembuatnya, jadi anggap saja LC863532B + LA76818A = LC76931 atau TMP47Cxxx + TA8690AN + TC4052 = TMPA8823CPNGxxxx, cukup masuk akal juga.
Kerusakan-kerusakan pada perangkat TV antara lain perangkat TV menjadi bersifat kadang-kadang (alias kadang normal, kadang tidak), OSD cacat atau hilang, tombol/remot tidak bekerja dengan semestinya, respon lambat, tidak bisa menyimpan setelan, channel bergeser sendiri secara pelan (drift), gangguan pada sistem AV dan prosesor video karena gagal diset (misalnya warna atau vertikal out tidak bekerja), TV menyala terus dengan IC program tidak respon, terproteksi, blank putih tanpa respon dan masih banyak lagi kerusakan lainnya pada perangkat TV.
Kerusakan-kerusakan di atas bisa jadi disebabkan oleh rusaknya IC program, atau bisa saja hanya disebabkan karena solderan lepas atau hanya satu resistor saja yang molor/putus. Fenomena inilah yang mempersulit dalam menentukan lokasi kerusakan dalam proses perbaikan perangkat TV, antara IC program atau komponen lainnya yang bermasalah.
Karena fenomena tersebut, para bengkel mau tidak mau harus banting setir dalam metode/cara perbaikan, tidak sama seperti ketika memperbaiki perangkat radio jadul, TV hitam putih jadul, atau bahkan perangkat audio jadul karena yang jadul-jadul notabene tidak dilengkapi dengan IC program dalam pengontrolannya. Bila ditinjau ulang, metode perbaikan cara jadul sebatas pada pertanyaan : Apakah tegangan pada blok ini sudah ada dan normal? Hmmm ...
Menurut pengalaman Penulis, metode perbaikan yang melibatkan IC program sebagai tersangka (belum terdakwa lho ...), ada beberapa tahap yang harus secara urut dilakukan dalam proses perbaikan. Langkah-langkah ini sekedar bersifat ‘memastikan’ sekaligus mempersempit area yang harus dicek. Langkah-langkahnya adalah :



RUPA-RUPA
Setelah dapat memastikan dan memfonis bahwa IC programnya rusak, sekarang saatnya untuk hunting ke service center, sesampainya di service center kebanyakan dapat melongo saja....... spare part dimaksud habis tidak ada stok, padahal spare part tersebut untuk TV yang masih cukup muda, kurang dari 3 tahun dari tanggal produksi, apa memang sengaja sang produsen kulak sedikit saja? ataukah masih banyak bengkel yang terkecoh dengan susah payah berbondong-bondong beli ke service center dan setelah dipasang ternyata penyakitnya belum sembuh padahal rata-rata harga dan janji kepada pelanggan cukup lumayan ‘menakutkan’?


BLOK 9 CRT DAN YOKE DEFLEKSI

YOKE DEFLEKSI DAN CINCIN PENGATUR KONVERGENSI
Elektron ditembakkan secaran lurus, supaya terbentuk gambar pada layar, elektron tersebut harus dibelokkan secara horisontal dan vertikal. Derajat pembelokannya tergantung dari tipe tabung dan yoke yang digunakan.
Derajat pembelokan yang dibutuhkan mempengaruhi bentuk lilitan dari yoke. Meski sama-sama flat, bentuk lilitan dari bagian yoke horisontalnya mungkin berbeda karena berbeda CRT yang digunakan. Selain bentuk lilitan yang harus disesuaikan, besar induktansi juga harus cocok dengan sistem vertikal-horisontalnya. Pemilihan tipe alternatif harus memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Cincin pengatur konvergensi/puritas dipakai untuk menepatkan posisi mendaratnya elektron pada layar karena pembelokan yang dilakukan oleh yoke tidak dapat 100% tepat sasaran. Umumnya terdiri dari 3 bagian masing-masing bagian terdiri dari 2 kutub magnet. Cincin konvergensi terdiri dari 1 set magnet pengatur landing/puritas, 1 set magnet 4 pole/kutub dan 1 set magnet 6 pole/kutub.
Setelan cincin konvergensi yang salah/berubah menyebabkan gambar menjadi berbayang warna biru, merah atau hijau (atau katakan saja RGB tidak menyatu). Setelah penggantian yoke, biasanya setelan cincin ini harus diset ulang.

METODE PEMBENTUKAN/PELUKISAN GAMBAR PADA LAYAR
Metode-metode pembentukan/pelukisan/scanning gambar pada CRT yang sering ditemui adalah interlaced dan progressive. Kedua metode tersebut Penulis ulas secara sederhana sebagai berikut :
Didalam sinyal video composite terdapat sinyal sinkronisasi. Sinyal ini digunakan untuk memandu blok horisontal dan vertikal. Tanpa yoke, hanya akan terbentuk/muncul titik ditengah-tengah layar. Titik ditengah layar anggap saja sebuah pena, dan pena ini digerakkan oleh yoke untuk melukis gambar.
Proses pelukisan gambar dilakukan per-baris (misalnya diawali dari baris teratas), diawali dari baris pertama dari kiri ke kanan, bila rangkaian blok horisontal mendeteksi adanya sinyal sinkronisasi Horisontal Blanking, maka ‘pena’ akan bergerak kembali ke sebelah kiri, dan blok/yoke vertikal akan menggerakkan kebawah satu baris, kemudian horisontal akan melukis lagi dari kiri ke kanan. Proses tersebut berulang-ulang hingga terbentuk satu layar penuh (sebut saja frame yang pertama, 1 frame). Bila blok vertikal mendapatkan sinyal sinkronisasi Vertical Blanking, maka yoke vertikal segera ‘mengembalikan’ ujung pena ke awal pelukisan lagi (ujung baris teratas), kemudian blok horisontal melanjutkan dengan melukis frame yang selanjutnya, begitu seterusnya. Proses scanning/pelukisan frame tersebut harus cukup cepat supaya tidak terlihat seperti gambar diam. Bila TV digunakan untuk menampilkan sinyal video dengan kecepatan frame 25fps, maka dalam satu detik TV akan mencetak gambar sebanyak 25 frame (fps=frame per-second). Atau bila dalam film kartun bergerak dengan kecepatan 25fps, dibutuhkan gambar sebanyak 25 gambar yang berbeda untuk tayangan selama 1 detik.

KERUSAKAN-KERUSAKAN YANG SERING TERJADI

   1. Tidak ada gambar, layar gelap, tegangan HV ada dan suara ada.
      Cek status setelan kontras dan brightness mungkin dalam posisi 0. Cek apakah filamen heater menyala, bila menyala, cek tegangan pada G2. bila tidak menyala, cek resistor heater dan sumber tegangan heater. Bila tegangan G2 tidak ada, cek apakah pin G2 CRT konslet terhadap pin G1. Cek apakah tegangan pada katoda RGB harus dapat mengikuti setelan brightness, bila brightness dinaikkan, tegangan pada katoda RGB akan turun.

   2. Terlihat garis seperti buku (garis retrace terlihat), dengan atau tanpa gambar (blank putih).
      Coba set ulang brightness dan contrass. Cek tegangan G2 yang mungkin terlalu tinggi. Cek apakah tegangan katoda RGB terlalu rendah, bila terlalu rendah, cek tegangan apakah penguat RGB bermasalah. Cek juga bagian sinkronisasi vertikal (v pulse) atau pada beberapa model bisa juga disebabkan vertikal yang tidak bekerja. Bila blanking terdiri satu warna saja, cek apakah salah satu katoda konslet terhadap G1.

   3. Gambar terlalu redup
      Cek tegangan G2, cek tegangan HV, cek apakah blok penguat RGB mampu menurunkan tegangan secara signifikan bila diset pada brightness tertinggi, cek juga jalur ABL. Cek juga soket CRT.

   4. Gambar menjalar/mblobor bila kontras/brightness dinaikkan
      Hal ini disebabkan karena CRT sudah lemah, coba naikkan tegangan heater 1 atau 2 volt, tetapi cara ini semoga tahan lama.

   5. Gambar ada tetapi tertutupi oleh gambar mirip serat-serat kayu secara random
      Cek elko pada jalur tegangan supply katoda RGB.

   6. Gambar tampil lama, tidak focus
      Cek soket CRT, cek tegangan focus dari FBT.

   7. Katoda konslet dengan G1 atau heater
      Bila salah satu katoda konslet/bocor terhadap G1 atau heater menimbulkan kerusakan polos hijau, biru atau merah disertai dengan munculnya garis-garis retrace (seperti screen yang terlalu tinggi). Besar bocoran/hambatan ini dapat diukur dengan ohmmeter. Bila konslet terhadap heater, dapat diakali dengan membuat tegangan supply untuk heater secara tersendiri dengan gnd yang terpisah dari gnd lainnya. Bila konslet terhadap G1, sebaiknya dilakukan penggantian CRT karena biasanya kerusakan konslet dengan G1 terjadi pada CRT yang berumur cukup tua.



TIPS-TIPS

   1. Sebelum membuka kop/kabel anoda dari tabung, CRT harus selalu didischarge (dikosongkan) dulu muatannya dengan mengkonsletkan pin HV CRT terhadap GND CRT (lapisan karbon luar CRT).

   2. Penggantian CRT sebaiknya menggunakan tipe yang sama atau setara.

   3. Ketika memindahkan CRT, jangan menggunakan leher CRT sebagai pegangan.


BLOK 9 CRT DAN YOKE DEFLEKSI

SEKILAS TENTANG CRT
Cathode ray tube (tabung sinar katoda), berprinsip dasar menembakkan elektron menuju anoda (plat yang ada di depan layar). Dibutuhkan besar tegangan yang cukup agar elektron dapat berpindah (tertembakkan). Elektron yang berpindah akhirnya mendarat pada lapisan fluor/phospor pada bagian depan CRT. Fluor/phospor ini akan berpendar/berpijar/menyala bila menangkap elektron dan akhirnya akan timbul bintik/gambar pada bagian lain kaca (depan/bagian sisi pengamat).
Pada TV hitam putih, hanya dibutuhkan 1 set penembak elektron (heater, grid1, grid2, dan katoda/video in). Fluktuasi/perubahan/modulasi tegangan pada grid video ini akan mengatur jumlah/kuantitas elektron yang diperbolehkan untuk menuju ke bagian depan layar. Pada TV warna, terdapat 3 set (R, G dab B) dengan cara kerja masing-masing sama dengan cara kerja pada CRT hitam putih. Secara teknis dan cara kerjanya, CRT cembung dengan flat adalah sama.



   1. Katoda (R, G dan B)
      Elemen/plat katoda merupakan sumber elektron utama. Tegangan pada plat ini diatur oleh transistor output RGB. Semakin tinggi tegangan pada elemen ini, semakin sedikit jumlah elektron yang ditembakkan. 3 buah plat ini masing-masing mengeluarkan elektron R (merah), green (hijau) dan blue (biru).
      Dalam pemrosesan sinyal video oleh IC chroma menghasilkan 3 sinyal warna RGB, sinyal RGB ini kemudian dikuatkan oleh blok penguat RGB untuk menggerakkan plat RGB pada CRT. Besar elektron yang berpindah/tertembak menimbulkan arus katoda. Arus katoda ini disensor dan diproteksi untuk menghindari terjadinya overshoot yang dapat memperpendek umur CRT sekaligus memproteksi kuantitas emisi sinar X yang dikeluarkan oleh CRT.

   2. Anoda (HV)
      Plat katoda merupakan negatifnya CRT dan elektron mengalir dari katoda menuju anoda. Tegangan/beda potensial pada plat anoda harus mencukupi supaya plat katoda mengemisikan elektron menuju ke plat anoda. Tegangan pada plat anoda disupply dari sekunder FBT dengan melalui kabel HV yang oleh para bengkel sering disebut sebagai kop anoda (kabel dari FBT yang terbesar dengan ujung karet silikon).

   3. Heater
      Selain beda potensial yang cukup, plat katoda juga perlu dipanaskan. Tujuan pemanasan ini agar plat katoda dapat menembakkan elektron meski dengan HV yang rendah. Semakin panas heater, semakin mudah bagi elektron untuk berpindah, juga semakin sedikit tegangan HV yang dibutuhkan.

   4. Screen (G2)
      Elektron yang keluar dari plat katoda dikumpulkan bersama-sama dengan elektron dari G1 (ingat, G1 juga negatif). Beda tegangan antara G1 dan G2 (screen) secara praktis dapat mengatur kuantitas elektron yang menuju ke anoda (bagian depan CRT). Semakin tinggi tegangan pada plat G2, semakin besar elektron dari G1 yang akan diteruskan. Perbedaan utama plat G1 dengan plat katoda (RGB) adalah pada tegangannya, bila tegangan RGB besarnya tergantung video, maka tegangan pada G1 adalah tetap (dan dijaga selalu negatif). Begitu juga elektron yang keluar dari G1 juga tetap.

   5. Focus (G3)
      Kuantitas elektron yang keluar dari G1 dan katoda perlu diperuncing, tegangan pada plat G3 mengatur tingkat focus dari elektron yang keluar. Tegangan focus ini bernilai tertentu tergantung kondisi CRT. Plat focus bekerja mirip dengan kaca pembesar (lup) yang mempunyai jarak focus tertentu.




BLOK 8 VERTICAL OUTPUT

Yoke horisontal berfungsi sebagai ‘pelukis’ elektron secara horisontal (kanan-kiri), bila tanpa pembelok vertikal, maka hanya terbentuk garis lurus horisontal/mendatar pada tengah layar. Blok vertikal output berfungsi untuk menguatkan sinyal vertikal dari IC jungle untuk diumpankan ke yoke vertikal. Yoke vertikal ini akan mengatur pembelokan elektron secara vertikal.
Persyaratan utama penguat vertikal harus mampu menguatkan sinyal gigi gergaji secara linear. IC-IC vertikal didesain khusus untuk tugas ini. Sebenarnya IC penguat vertikal tidak jauh berbeda dengan penguat/amplifier audio. Mulai dari cara kerja hingga sistem tegangan supplynya. Yang paling berbeda adalah bandwidth dari penguat itu sendiri, yaitu hanya sekitar 40 s/d 400Hz pada penguat vertikal.
Selain berfungsi sebagai penggerak yoke vertikal, blok ini juga mengeluarkan sinyal vertical pulse yang digunakan untuk sinkronisasi vertikal dan sinkronisasi OSD. V-Pulse umumnya diambil dari pin Pump-Out pada IC vertikal, meski tidak menutup kemungkinan untuk mengambil V-Pulse dari output atau dari input vertikal.
Dalam penggantian IC dengan tipe alternatif, yang penting diperhatikan adalah kemampuan arus output defleksi maksimal dan tegangan kerja maksimal. Sebagai contoh LA78040 dapat diganti secara pin-to-pin dengan STV9302A. pada penggunaan arus yang lebih tinggi, dapat diganti dengan LA78041 atau STV9328A atau seri-seri lain yang lebih aman (baca datasheet).

SKEMA DASAR BLOK OUTPUT VERTIKAL



Pada gambar yang atas, penguat diberi supply non simetris. Vertikal input diberi masukan sinyal vertikal (berbentuk gigi gergaji) dari IC jungle/osilator. Vertikal pulse umumnya menuju ic program untuk digunakan sebagai sinkronisasi vertikal (V-SYNC). Tegangan supply vertikal umumnya diambil dari sekunder FBT, pada beberapa jenis TV, misalnya sasis TV china, tegangan supply vertikal diambil dari output SMPS dengan melalui transistor swith terlebih dahulu.
Pada sistem tegangan non simetris, secara normalnya tegangan keluaran (TP3) akan setengah dari VCC (VDC). Masukan yang dipakai adalah pin Input negatif (INV), sedangkan pin input positifnya diset pada tegangan referensi stabil. Bila tegangan referensi (TP1) diset pada 2V (diset oleh R10 dan R11), maka supaya penguat dapat bekerja dengan normal tegangan pada pin inputnya (TP2) harus sama/sekitar 2V juga.
Dalam proses perbaikan, untuk memastikan normal tidaknya rangkaian vertikal output non simetris ini dengan cara melepas input (melepas R3), kemudian mengukur tegangan pada outputnya (TP3). Secara normal masing-masing harus terbaca TP1=0V, TP2=2V (atau bukan 0V, sembarang tegangan tergantung dari nilai-nilai komponen lain yang dipakai) dan TP3 akan setengah dari VCC. Dapat juga dengan cara tradisionil dengan menyentuh input dari vertikal dan akan terbaca simpangan tegangan pada outputnya.
Mengacu cara kerja sebuah amplifier (atau op-amp), bila TP1 ada tegangan dan TP2 tidak ada tegangan, maka TP3 akan 0V. Bila TP1 tidak ada tegangan dan TP2 ada tegangan, maka TP3 akan mendekati VCC. Terakhir, bila tegangan TP1 sama dengan tegangan pada TP2, maka tegangan pada TP3 akan separuh dari VCC (kondisi normal).



Dengan tipe IC yang sama, pada skema di atas diberi supply secara simetris (positif, 0/GND, negatif). Hampir semua IC penguat (op-amp) dapat disusun dengan tegangan non simetris atau dengan tegangan simetris, tidak terbatas pada penguat audio saja. Kelebihan dari sistem simetris ini adalah lebih ringkas, tetapi lebih kompleks dalam hal pemrosesan sinyal gigi gergajinya. Sebelum sinyal dikuatkan, sinyal vertikal harus diproses dan dipisahkan antara pulsa positif (VA) dan negatifnya (VB) terlebih dahulu oleh IC jungle/osilator baru dikuatkan oleh penguat vertikal.
Secara normalnya, output (TP3) akan terukur 0VDC (tapi akan terbaca sekitar VCC bila diukur dengan AC volt) dan tegangan TP1 sama dengan tegangan pada TP2. Bila TP1 ada tegangan, TP2 tidak ada tegangan, maka output akan terbaca tegangan positif (menunjuk nilai tertentu ke arah positif), begitu juga sebaliknya, menuju ke negatif bila TP2 ada tegangan dan TP1 tidak ada tegangan.
Ketidak simetrisan input dan tegangan supply dapat menyebabkan tidak linearnya penguat vertikal jenis simetris yang dapat terlihat jelas dari gambar yang berkerut atas atau berkerut bawah saja. Begitu juga jika yoke vertikal mengalami kerusakan (non simetris, misalnya salah satu sisinya berubah nilainya).
Bila penguat vertikal bersistem simetris digunakan untuk menguatkan sinyal vertikal dari IC jungle yang tidak dilengkapi dengan output simetris (misalnya TDA8841) maka rangkaian konverter harus diperlukan. Fungsi rangkaian konverter ini digunakan untuk mensimetriskan keluaran pulsa vertikal. Rangkaian dimaksud dapat ditemukan pada TV Polytron dan TV Sony. Umumnya menggunakan IC op-amp (JRC4558 atau yang lain) sebelum diumpankan ke penguat vertikal yang simetris.

BLOK 8 VERTICAL OUTPUT

KERUSAKAN-KERUSAKAN DAN TIPS-TIPS PERBAIKAN BLOK VERTIKAL OUTPUT

   1. Garis horisontal (mendatar)
      Kerusakan ini disebabkan karena sinyal vertikal tidak masuk ke yoke, mungkin dikarenakan gagalnya output vertikal. cek tegangan supply penguat vertikal, cek komponen-komponen disepanjang jalur output vertikal dari IC jungle/osilator. Bila output vertikal dari osilator ada dan tegangan supply amplifier vertikal ada, cek apakah tegangan pada output vertikal ada dengan voltmeter AC. Secara normalnya, tegangan output pada amplifier vertikal non simetris akan terbaca setengah dari VCC secara DC. Dan terbaca 0VDC bila pada penguat simetris. Bila kerusakan bukan pada blok penguat vertikal melainkan pada blok jungle-nya, cek v-ramp dan v-iref (baca datasheet IC yang dipakai).

   2. Kurang penuh atau terlalu penuh
      Cek setelan v-size, cek apakah yoke yang terpasang cocok impedansinya atau sudah berubah impedansinya, cek tegangan supply (bila terlalu tinggi maka gambar akan memendek, begitu sebaliknya bila tegangan supply turun). Cek elko-elko diseputar penguat vertikal, kalau perlu direboisasi ulang meski kelihatan bagus, terlebih pada elko dan resistor-resistor vertikal feedback (feedback, bagian sistem penguat yang mengumpan balik sinyal dari output ke bagian inputnya, umumnya terdiri dari jaringan resistor dan kapasitor, RC). Bila disertai dengan gambar yang tidak linear, cek setelan V-LINE.

   3. Gambar scrolling/bergulung ke atas/bawah
      Cek format sistem warna apakah PAL/NTSC. Cek blok osilator vertikal. bila kadang-kadang dapat ‘berhenti’ sendiri, cek komponen-komponen disepanjang vertical feedback dan sinkronisasi vertikal. Pada beberapa tipe IC penguat vertikal yang dilengkapi dengan switch mode frekuensi vertikal (misalnya TA8445, LA7838) umumnya kerusakan terjadi pada IC itu sendiri.

   4. Tinggi/gambar tidak linear, atau disertai dengan melipatnya gambar pada posisi atas/bawah.
      Yang dimaksud tidak linear adalah gambar yang ditampilkan tidak seragam tingginya dari atas sampai bawah. Misalnya sedang menampilkan ngambar kotak-kotak (grid), maka tinggi kotak yang ditampilkan tidak seragam/sama (katakan saja panjang kepala tidak proporsional). Cek setelan V-LINE dan V-SIZE, cek tegangan supply penguat vertikal, cek dioda pump-out, cek juga elko-elko diseputar IC vertikal terutama elko pump-out dan elko output vertikal. V-RAMP dan V-FEEDBACK juga dapat menyebabkan kerusakan ini. Pada penguat jenis simetris, cek tegangan output kedua V-Drive, harus seimbang.

   5. Gambar terbalik
      Bila gambar yang ditampilkan terbalik, balik saja polaritas kabel yoke vertikalnya.
   6. Timbul garis-garis dengan posisi tetap atau acak
      Selain timbul garis acak, umumnya juga disertai dengan tidak linearnya gambar, disebabkan karena yoke berubah keseimbangannya, atau yoke rusak (gulungan konslet sebagian).

   7. Gambar seperti gelombang, hanya ditengah layar
      Cek apakah yoke vertikal putus/terbakar. Yoke vertikal terdiri dari 2 bagian, bila 1 bagiannya putus/rusak, dapat menyebabkan kerusakan seperti ini.



TAMBAHAN
Sinyal gigi gergaji yang dikuatkan olek blok penguat vertikal berfrekuensi antara 40 s/d 400Hz, audible, pilih saja 50Hz, jadi bila output vertikal diberi beban speaker, akan terdengar suara druut. Jadi wajar saja bila dari yoke terdengar suara. Bila sistem grounding dalam TV tidak baik, suara ini kadang dapat mengganggu sistem audio amplifiernya (terdengar pada speaker TV secara halus).

BLOK 7 HORISONTAL OUTPUT

Output power supply pada pesawat televisi sering ditemukan untuk mensupply tegangan-tegangan yang dipakai sebagian besar oleh blok-blok televisi, misalnya pada sasis mesin china, output power supply terdiri dari B+ (sekitar 90 s/d 140V), tegangan aux dan V_standby (v_aux, umumnya 12V), tegangan v_sound (16V), tegangan amplifier vertikal (24V), tegangan video output (180V).
Berbeda dengan sasis jenis lainnya, power supply yang terpasang hanya untuk sebagian kecil dari kebutuhan tegangan pada pesawat televisi (hanya terdiri dari B+, v_standby dan v_sound). Sedangkan tegangan-tegangan lainnya disupply oleh trafo flyback (FBT). Jadi bisa dikatakan bahwa blok power supply pada TV sebagai sumber tegangan primer dan FBT merupakan sumber tegangan sekunder (yang mengolah tegangan B+ dari power supply menjadi beberapa tegangan sekunder yang dibutuhkan).
Pada blok output horisontal, terdapat 5 komponen/blok utama, yaitu, driver, transistor final (sering disebut TR horisontal), FBT (flyback transformer), yoke horisontal dan EW/OW adjusment (pada jenis TV flat).
Pulsa signal horisontal dari osilator horisontal dikuatkan oleh driver horisontal yang kemudian dikuatkan lagi oleh transistor horisontal. Transistor horisontal akan memberi pulsa pada lilitan primer FBT sehingga akan muncul tegangan-tegangan di lilitan sekunder FBT. Selain itu, pulsa-pulsa pada output transistor horisontal diumpankan ke yoke horisontal untuk membelokkan elektron pada tabung/CRT secara mendatar (horisontal) dalam siklus/periode tertentu. Pada TV flat, output defleksi/yoke horisontal ini dilengkapi dengan rangkaian EW untuk mengatur derajat pembelokan elektron oleh yoke horisontal.
Blok output horisontal disupply oleh tegangan B+ dari power supply, yang kemudian oleh FBT diubah/diproses untuk menghasilkan tegangan-tegangan lainnya yang dibutuhkan (misalnya tegangan aux dan tegangan amplifier vertikal). Jadi kegagalan/kerusakan dalam horisontal output dapat menyebabkan terganggunya tegangan-tegangan pendukung bahkan dapat menyebabkan TV tidak bisa menyala/terproteksi, meskipun tegangan B+ sudah ada.
Berikut ini sedikit keterangan tentang masing-masing blok/komponen pada horisontal output.

   1. Driver Horisontal
      Amplitudo/level sinyal pulsa horisontal dari output osilator horisontal tidak cukup untuk menggerakkan transistor final secara langsung, jadi dibutuhkan penguat driver horisontal. Pada blok driver horisontal dapat ditemukan transistor driver, filter dan trafo driver horisontal. Pada beberapa jenis TV ada yang tidak menggunakan trafo horisontal melainkan dikopel langsung ke final horisontal, misalnya pada TV RCA/Saba/Thomson.
      Driver horisontal bekerja dalam rentang frekuensi tertentu sesuai dengan frekuensi horisontal pada TV. Oleh karena itu, blok driver ini sering menggunakan transformator dan filter (R dan C seri pada kolektor transistor driver) untuk menjamin bahwa frekuensi kerjanya tidak ‘keluar’ dari desain frekuensi horisontal. Selain itu, penggunaan trafo dapat mengurangi emisi frekuensi yang tidak dikehendaki sekaligus sebagai penyesuai impedansi antara output transistor driver dengan transistor final horisontal.
      Kerusakan pada blok ini antara lain pergeseran fasa, penguatan kurang, self oscillation dan osilasi parasitik. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat menyebabkan terganggunya sistem AFC sehingga dapat menyebabkan tidak awetnya transistor final horisontal dan blok-blok output horisontal yang lain.


BLOK 7 HORISONTAL OUTPUT

  2. Transistor Final atau Transistor Horisontal
      Seperti halnya transistor final pada smps, transistor output defleksi horisontal dipilih dari transistor dengan karakteristik yang mampu untuk men-switch pada frekuensi tinggi dengan arus kolektor yang cukup (frekuensi pada output horisontal TV umumnya sekitar 15 s/d 40Khz). Selain kemampuan frekuensi kerja yang cukup, tegangan colector emitor (VCE), tegangan breakdown yang cukup aman, tegangan saturasi basis (besar tegangan minimal yang dibutuhkan oleh transistor untuk menswith penuh/saturated) dan arus kolektor maksimum yang aman juga harus terpenuhi.
      Dimisalkan frekuensi kerja horisontal sebesar 15625Hz, maka transistor final tersebut akan ON dan OFF sebanyak 15625 kali perdetik. Ketika kondisi ON, terdapat arus kolektor yang tertinggi (sebaliknya terdapat tegangan kolektor yang terendah). Ketika OFF, tegangan kolektor akan naik dengan besar tegangan yang melebihi tegangan kerja dari transistor itu sendiri (sebagai akibat demagnetisasi inti trafo yang diswitch). Tegangan ini harus diblok/ditahan supaya tidak merusakkan transistor tersebut. Kapasitor snubber dan dioda dumper diperlukan untuk fungsi penahan tegangan ini. Kapasitor snubber ini oleh para bengkel sering disebut sebagai kapasitor horisontal/kapasitor kolektor horisontal.
      Guna menjaga supaya sistem penguat horisontal ini tidak berosilasi sendiri (self oscillation) yang berakibat fatal, bias basis transistor horisontal dijaga sekecil mungkin dengan impedansi basis serendah mungkin dengan resistor clamp. Pada umumnya transistor horisontal secara internal sudah dilengkapi dengan resistor clamp dan dioda dumper. Selain sebagai pelindung self oscillation, clamp ini juga berfungsi sebagai akselerator waktu yang dibutuhkan untuk membuang muatan kolektor.
      Secara praktek transistor smps reguler (tanpa Rbe dan dioda dumper) dapat digunakan sebagai transistor final horisontal, tetapi harus dilengkapi dengan Rbe dan dumper eksternal, begitu juga dengan karakteristik-karakteristik lain harus dipilih supaya penguat dapat beroperasi dengan normal dan tidak menimbulkan self-oscillation dan arus kontinu. Sebaliknya, bila transistor final horisontal digunakan untuk final smps, maka transistor tersebut akan kesulitan start/switch karena pada umumnya transistor horisontal secara internal dilengkapi dengan Rbe.

   3. Flyback Transformer (FBT)
      Tegangan utama dari FBT adalah tegangan HV anoda yang digunakan untuk menyalakan CRT, tegangan screen (G2), tegangan focus (G3), tegangan Video output, tegangan heater dan tegangan AFC. Selain tegangan-tegangan tersebut, sering juga terdapat tegangan lainnya yang digunakan untuk blok-blok lain, misalnya tegangan untuk blok output vertikal, tegangan VT, tegangan untuk IC chroma/IF dan tuner.
      Bagian primer FBT diswitch oleh transistor horisontal sehingga FBT dapat menginduksikan tegangan pada lilitan sekundernya. Tegangan HV yang dikeluarkan melalui tahap penyearahan dan pengalian/penggandaan tegangan terlebih dahulu didalam FBT hingga mencapai tegangan berkisar 20 s/d 26KV. Umumnya tegangan screen dan focus disadapkan dari sekunder HV tersebut dengan menggunakan trimpot/potensio screen dan focus.
      Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tipe alternatif FBT adalah tegangan B+ (atau tegangan primer dari FBT), aplikasi/frekuensi kerja dari FBT (digunakan sebagai TV, monitor atau fungsi yang lain), tegangan HV output (besar tegangan HV tergantung dari jenis dan besar CRT yang dipakai) dan kelengkapan tegangan sekunder. Tidak semua FBT mempunyai karakteristik yang sama, terlebih pada keluaran tegangan HV yang dikeluarkan. Misalnya tipe 154-064P dengan 154-177B, secara pin to pin keduanya sama persis tetapi output tegangan HV-nya berbeda. 154-177B lebih tinggi sekitar 2000an volt. Begitu juga pada tipe lain, misalnya FA-060 dengan FA-061.
      Sebagai contoh penerapannya, 154-064P digunakan untuk menyalakan CRT 14” sedangkan 154-177B digunakan untuk menyalakan CRT 20”. Bila CRT 14” ‘dipaksa’ diberi tegangan yang setara dengan 20” memang secara kasat mata tidak terlihat perbedaannya (bahkan gambar terlihat lebih kinclong), tetapi jumlah radiasi sinar-X akan lebih besar kuantitasnya, berbahaya dan tidak terlihat secara kasat mata (baca stiker pada CRT, ‘X-RAY WARNING : When this picture tube is ...’).
      Dimisalkan secara normal sebuah FBT dengan B+ primer 110V menghasilkan output HV sebesar 22KV berarti tegangan HV-nya sekitar 200 kali tegangan primernya, bila tegangan primernya (B+) dinaikkan menjadi 115V (dinaikkan 5V saja), maka output HVnya menjadi sekitar 23KV (naik 1000V dari nilai normalnya) yang akan mencapai ‘X-RAY Warning’ atau bahkan bila berlebihan dapat merusakkan CRT karena over voltage.
      Tegangan primer (B+) disesuaikan dengan desain secara keseluruhan. Tidak semua FBT mempunyai tegangan B+ masukan yang sama. Tujuan utama perbedaan B+ ini adalah efisiensi dan murahnya biaya produksi. Semakin tinggi desain tegangan primernya, semakin rendah arus yang dibutuhkan. Semakin rendah arus yang dibutuhkan, semakin murah transistor final dan komponen lain yang digunakan (misalnya blok SMPS). Begitu pula dengan FBT, jumlah lilitan primer akan lebih banyak, kawat primer lebih kecil, lilitan sekunder lebih sedikit, alhasil FBT lebih ringkas.
      Desain B+ yang tinggi juga berpengaruh terhadap desain induktansi yoke horisontal (semakin tinggi B+, semakin panjang lilitan yoke horisontal, semakin tinggi resistansi/induktansinya).
      Dengan kritisnya besar tegangan B+ inilah tidak heran bila tegangan B+ menjadi salah satu tegangan yang paling ‘dipelototi’ oleh sistem proteksi, yang akan terprotek bila B+ terdeteksi melebihi dari tegangan normalnya. Metode penyensoran B+ selain dengan menyensor langsung pada jalur B+, bisa juga dengan menyensor tegangan keluaran dari sekunder FBT, misalnya dengan menyensor besar tegangan pada output tegangan heater.




BLOK 7 HORISONTAL OUTPUT

   4. Yoke Horisontal (H Deflection)
    Fungsi utama blok horisontal guna membelokkan elektron secara horisontal (deflection=pembelokan). Elektron dapat dibelokkan dengan magnet yang dihasilkan oleh yoke horisontal. Karena yang dibelokkan terdiri dari 3 elektron (RGB) sekaligus, maka yoke horisontal dapat dikatakan sebagai sang ‘pelukis’ pada kanvas lapisan phospor pada bagian depan CRT.
      Derajat pembelokan elektron tergantung dari tipe yoke dan CRT yang digunakan. Misalkan pada CRT s90 maka derajat pembelokannya sebesar 90 derajat, begitu juga dengan s120 yang sebesar 120 derajat. Bila yoke CRT s90 dipasang pada CRT s120, maka akan terjadi mis-landing, karena mendaratnya elektron tidak tepat pada lapisan phospor yang ada kaca depan CRT.
      Selain bentuk yang berbeda, bentuk lilitan yoke juga disesuaikan dengan CRT yang digunakan, misalnya CRT s90 (cembung) akan berbeda bentuk lilitannya dengan CRT datar/flat. Bentuk lilitan yang berbeda ini dimaksudkan untuk membentuk medan magnet yang sesuai dengan daerah landing-nya elektron.
      Umumnya lilitan yoke horisontal terdapat pada bagian dalam yoke, sedangkan lilitan bagian luar yoke merupakan lilitan output vertikal. Dalam memilih yoke alternatif yang penting dipertimbangkan adalah kesesuaian bentuk lilitan atau kesesuaian derajat CRTnya. Selain itu, besar induktansi juga sangat berpengaruh. Daripada kesulitan memikir induktansi, secara mudahnya induktansi dapat diketahui (meski berbeda asumsi) dengan mengetes hambatan dari lilitan horisontalnya. Pada TV dengan B+ 110V, lilitan horisontal terukur sekitar 2,8 s/d 3 ohm. Sedangkan pada TV dengan B+ sekitar 130V sekitar 3,5 s/d 4,5 ohm. Modifikasi sangat diperlukan bila memasang yoke yang berbeda induktansinya dengan menggunakan transformator step-down/up yoke horisontal atau menaikkan induktansinya dengan membuat lilitan yang disambung secara seri terhadap yoke.
      Tentang tranformator yoke horisontal, sebenarnya merupakan transformator step-down, digunakan untuk menurunkan tegangan yang masuk ke yoke sehingga yoke dengan hambatan/induktansi lebih rendah dapat digunakan (misalnya yoke bekas monitor komputer). Sebaliknya, bila yoke yang digunakan lebih besar dari desain mesin TV, digunakanlah transformator step-up.

   5. Pengatur EW/OW
      Seandainya kaca bagian depan sebuah CRT cembung ‘diratakan’ begitu saja, maka akan terbentuk gambar yang terlihat cekung ditengah, karena jarak antara penembak elektron dengan landingnya akan berbeda (semakin ke tengah semakin pendek). Bila digunakan untuk menampilkan gambar grid (kotak-kotak) akan terlihat kotak yang lebih kecil pada bagian tengah yang semakin kesamping semakin besar ukurannya. Atau sebaliknya bila CRT flat dicembungkan, gambar akan terlihat lebih seksi.
      Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah rangkaian EW/OW yang berfungsi sebagai adjusment otomatis linearitas gambar dengan mengatur pulsa yang menggerakkan yoke horisontal. Komponen-komponen utama EW adalah penguat EW yang menguatkan sinyal pengatur EW dari IC jungle. Rangkaian EW/OW ini terletak pada blok horisontal output, umumnya menyadap kolektor transistor output horisontal dengan transistor penguat EW tersendiri beserta kapasitor dan dioda-dioda pengatur EW. Rangkaian EW/OW ini dapat ditemukan pada TV jenis flat.


BLOK 7 HORISONTAL OUTPUT

SKEMA DASAR BLOK OUTPUT HORISONTAL




Masukan H-DRIVE dihubungkan ke output osilator horisontal pada IC jungle. Sinyal output horisontal kemudian dikuatkan oleh driver horisontal (Q2). Keluaran dari trafo driver horisontal (T1) dikuatkan oleh transistor final horisontal yang akhirnya menswitch FBT dengan frekuensi yang sama dengan input drivernya.
Tegangan B+ umumnya berkisar antara 90 s/d 145V tergantung dari merk dan model dari perangkat TV (lebih sering ditemukan dengan B+ 115V). Tegangan H-DRIVE VCC dapat mengambil dari B+ dengan melalui resistor (R2) atau dengan memberi tegangan drive tersendiri (misalnya 24V atau 50V). Kaki yoke/defleksi horisontal yang terhubung dengan kaki kolektor transistor horisontal umumnya disebut sebagai pin H+ (pin H positif). Masukan EW drive diambilkan dari output EW dari IC jungle (prosesor EW) dengan melalui penguat dan buffer terlebih dahulu (IC driver EW) yang kemudian dikuatkan oleh transistor EW (ralat: pada skema adalah salah ketik, yang benar adalah Q3), sering juga penguat EW ini tidak menggunakan transistor, akan tetapi menggunakan FET. Bila blok EW tidak bekerja/mengalami kerusakan, gambar akan melengkung kanan kiri.

TIPS-TIPS DAN KERUSAKAN-KERUSAKAN PADA BLOK HORISONTAL
Kerusakan yang paling sering terjadi adalah kerusakan pada tidak awetnya transistor final horisontal. Beberapa pengalaman penulis seputar transistor horisontal antara lain :

   1. Bila transistor mati dalam itungan kurang dari 3 detik diiringi suara seperti bocornya tegangan HV yang berlebihan (krak) dan transistor masih dingin, cek kapasitor snubber (kapasitor pada kaki kolektor ke gnd).

   2. Bila transistor mati dalam waktu sekitar 10 detik sampai 1 menitan, diawali dengan meningkatnya suhu transistor secara cepat dan diiringi dengan menurunnya tegangan b+ secara signifikan, cek FBT, cek yoke horisontal.

   3. Bila transistor mati dalam waktu antara 5 menit s/d 2 jam cek B+, cek yoke, cek pergeseran fasa/frekuensi horisontal yang mungkin disebabkan oleh trobelnya osilator (kristal) atau bagian driver, cek apakah transistor yg dipasang cocok dan tidak dalam kondisi overdrive (R Basis-Emitor molor), cek beban-beban pada sekunder FBT, cek juga sistem AFC/sinkronisasi.

   4. Bila transistor mati lebih dari 2 jam, cek transistornya, cek kesesuaian bias transistor yang dipasang dengan kondisi rangkaian, kasus ini sering terjadi jika penggantian tipe lain yg tidak sesuai/lebih rendah kualitasnya. Cek juga blok driver horisontal terlebih pada transistor dan komponen sekitar trafo driver horisontal (terlebih pada elko-elko blok horisontal).



MENENTUKAN KONDISI NORMAL TIDAKNYA BLOK OUTPUT HORISONTAL
Pada banyak desain TV sering ditemui adanya resistor (bernilai antara 1,5 s/d 10 ohm) yang berfungsi sebagai R fuse yang disambung secara seri dari B+ output SMPS menuju ke pin B+ FBT. Resistor tersebut dapat disalahgunakan untuk mengukur konsumsi arus oleh blok final horisontal (transistor, FBT sekaligus beban-bebannya). Semakin tinggi arus yang digunakan, semakin besar beban dari blok output horisontal.
Cara mengukur konsumsi arus dengan mengukur besar tegangan pada kaki-kaki resistor tersebut. Posisikan pengukuran pada skala 2V5, kaki resistor yang terhubung dengan output B+ dari SMPS mendapatkan colokan multitester merah, kaki resistor yang terhubung dengan pin B+ FBT mendapatkan colokan hitam, dalam keaadan menyala. Semakin tinggi tegangan yang terukur, semakin besar arus yang dikonsumsi.
Secara normalnya, berdasarkan pengalaman penulis, TV 21” dengan resistor B+ sebesar 3,3/2W terukur sekitar 0V8 s/d 1V2. Besar tegangan yang terukur tidak sama pada setiap merk TV, tergantung dari besar hambatan resistor tersebut, semakin besar hambatannya, semakin besar tegangan yang terbaca. Cara yang paling tradisional tetapi lumayan akurat adalah dengan menyalakan TV sekitar 5 menit, dimatikan, kemudian sentuh resistor tersebut, semakin panas, berarti semakin besar konsumsi arusnya. Semakin besar konsumsi arusnya, semakin tidak normal blok horisontalnya.

BLOK 6 CHROMA DAN MATRIX

Sebaiknya kita tinjau dulu sedikit informasi tentang jenis sinyal video yang sering ditemukan, antara lain :

   1. CVBS (composite video baseband signal), sinyal ini yang paling banyak ditemukan pada perangkat AV misalnya TV dan DVD player. Di dalam sinyal video analog ini terdiri dari sinyal sinkronisasi, luminance/brightness dan color hanya dengan satu kabel saja. Umumnya menggunakan colokan RCA dengan warna kuning.

   2. S-Video (separate video), menggunakan 2 kabel yang masing-masing membawa sinyal luminance (Y) dan chroma (C). Sering disebut juga sebagai sinyal Y/C.

   3. Component Video, terdiri dari beberapa sinyal yang terpisah, umumnya terdiri dari 3 kabel. Jenis format ini merupakan yang terbaik karena masing-masing sinyal benar-benar terpisah. Pada sistem TV umumnya terdiri dari sinyal Y, sinyal R-Y (merah dikurangi Y) dan B-Y (biru dikurangi Y). Selisih pengurangan tersebut yang berisi warna sesungguhnya dari gambar yang ditampilkan. Contoh lain jenis Component Video adalah Y, Pr, Pb yang merupakan pengembangan dari Y, R-Y, B-Y di atas.



Chrominance dan Matrix

Di dalam sinyal video CVBS yang diproses terdiri dari sinyal sinkronisasi, sinyal luminance (brightness) dan sinyal color/warna. Masing-masing saling berhubungan dan tersinkronisasi. Sinyal sinkronisasi digunakan sebagai pemandu/pengunci osilator-osilator jungle (vertikal dan horisontal), sinyal luminance (Y) berfungsi mengeset kuantitas elektron/brightness (terang-tidaknya gambar) dan sinyal warna (color/chroma) yang berisi elemen-elemen warna. Sinyal chroma terdiri dari beberapa sinyal warna dengan kuantitas warna yang ditentukan oleh besar level saturation, semakin tinggi levelnya semakin banyak warna yang dihasilkan/didekoder. Sinyal-sinyal warna yang telah terdeteksi dan terdekoder tersebut akan dicampur dengan sinyal luminance (Y) oleh blok matrik guna menghasilkan warna-warna yang ditampilkan (secara mudahnya dapat dikatakan sebagai peracik dari 3 warna RGB menjadi warna yang full color).
Pada sistem TV, sinyal CVBS yang masuk dipecah menjadi dua sinyal dengan melalui filter, salah satu menuju ke bagian pemisah sinkronisasi guna menghasilkan sinkronisasi vertikal dan horisontal, satunya lagi menuju ke blok chroma. Sinyal chroma yang sudah terfiltrasi tersebut dideteksi oleh blok chroma berfungsi sebagai penentu format warnanya. PAL dan NTSC merupakan contoh dari jenis format video, termasuk jenis warnanya.
Blok chrominance dilengkapi dengan kristal yang berfungsi sebagai penghasil pulsa yang digunakan sebagai proses pendeteksian warna. Deteksi ini dilakukan secara otomatis, jika terdapat 2 kristal (misalnya 3,579 dan 4,43MHz) maka secara otomatis kristal tersebut terpilih berdasarkan sinyal chrominance yang masuk. Setelah terpilih, kristal berikut Delay-Line akan menguraikan elemen-elemen warna dalam sinyal chroma tersebut.
Sinyal-sinyal hasil proses deteksi delay-line tersebut dicampur dengan sinyal Y (luminance) dengan tujuan untuk mengeset tingkat level/kekuatan masing-masing warna yang telah terdeteksi berdasarkan sinyal luminance. Karena matrik berfungsi sebagai pencampur, maka dimungkinkan untuk ‘menyisipkan’ sinyal warna eksternal pada jalur outputnya, misalnya sinyal OSD. Selain itu, blok matrik juga berfungsi sebagai pengatur kecerahan (brightness), kontras, level warna, sharpness, clamp dan pengatur gambar secara umum.
Yang perlu diketahui, level warna dan jumlah warna adalah berbeda pengertiannya. Level warna adalah tingkat terang-tidaknya hanya satu warna, sedangkan jumlah warna adalah jumlah satuan/nama warna yang ditampilkan. Jumlah warna diatur oleh kontrol saturasi, sedangkan level warna dikontrol oleh color control. Meski berbeda, 2 kontrol tersebut berhubungan erat dengan kontrol brightness.
Kontras atau beda warna, semakin tinggi pengaturan kontras, semakin sedikit jumlah warna yang akan ditampilkan di layar, karena pada dasarnya kontras akan memotong warna-warna yang jauh dari warna primer. Prosedur pemotongannya dengan mengatur tingkat pemadaman gambar (black level) secara seragam. Umumnya black levelling diatur secara otomatis oleh sistem pengatur arus katoda (IK detector), kebalikannya adalah pengatur ABL (automatic blanking limiter).

RGB Amplifier
Output dari sistem matrik terdiri dari sinyal R, G dan B kemudian dikuatkan oleh penguat RGB yang mengatur jumlah elektron pada masing-masing katoda dalam tabung gambar (CRT). Elektron-elektron ini akan ditembakkan/dilukiskan pada lapisan fluor pada layar tabung secara horisontal oleh yoke horisontal.
Secara fisik blok ini pada umumnya terdapat pada ujung belakang dan terdapat soket untuk kaki-kaki CRT. Penguat yang dipakai menggunakan transistor berkecepatan tinggi dengan kemampuan tegangan kerja yang tinggi. Transistor-transistor ini harus mampu mengolah/menswitch tegangan katoda yang secara umum berkisar 160 hingga 200V. Semakin rendah tegangan katoda, berarti semakin rendah beda potensial antara katoda dan anoda tabung, sehingga semakin banyak elektron yang akan ditembakkan.
Selain menguatkan tegangan RGB yang berasal dari matrik, blok RGB output juga menghasilkan tegangan arus katoda, yaitu tegangan yang berbanding lurus terhadap tingkat terangnya gambar (semakin terang semakin tinggi tegangannya). Arus ini disensor dan dikerjakan dalam level tertentu, arus ini juga yang mengatur level output RGB dari blok matrik secara otomatis.

Bagaimana Jika

   1. Hanya sinyal Y saja, keadaan ini menyebabkan gambar yang ditampilkan berupa gambar hitam-putih (grey). Pada sistem tv hitam putih, televisi hanya memproses dan menampilkan sinyal Y ini hingga ke CRT.

   2. Hanya sinyal C saja, gambar tidak mungkin tercetak, karena sinyal sinkronisasi dan informasi kuantitas elektron terdapat pada sinyal Y.

   3. Kristal terganggu, akibatnya warna tidak dapat diuraikan sehingga perangkat TV hanya menampilkan sinyal Y saja hasil dari matrik.



Contoh Skema


Sinyal CVBS masukan bersumber dari switch video internal, kemudian sinyal video ini difilter guna mengambil elemen chroma dan elemen luminance (Y). Sinyal luminance langsung dihubungkan ke bagian matrik dalam IC.
Elemen chroma (sebut saja sinyal chroma), dimasukkan ke blok detektor guna mengurai warna-warna yang terdapat di dalamnya. Kristal-kristal pada rangkaian tersebut menghasilkan frekuensi yang digunakan sebagai pendekoder/pengurai warna-warna tersebut. IC secara otomatis mengunci dan memilih salah satu kristal berdasarkan format sinyal chroma. Misalnya terdeteksi PAL 4.43, maka kristal tersebut yang akan terpilih. Penguncian ini membutuhkan loop detektor karena bersistem PLL. Pin36 (loop_det) berfungsi sebagai pembanding fasa antara sinyal chroma masukan dengan frekuensi dari 2 kristal tersebut. Hasil pembandingannya, akan disinkronkan dengan pulsa FBT (FBISCO) guna memastikan bahwa frekuensi horisontal tepat sehingga lokasi/kordinat pembuatan titik warna tidak melenceng.
Warna-warna hasil dekoding terdiri dari sinyal Y, R-Y (U) dan B-Y (V) atau sinyal YUV. Sinyal-sinyal tersebut kemudian diproses tingkat kecerahan, ketajaman, level dan kontrasnya yang akhirnya menghasilkan sinyal R, G dan B. Selama pemrosesan sinyal RGB, sinyal RGB eksternal dapat disisipkan dengan memberi perintah kepada blok matrik untuk mencuplik sinyal pada pin RGBIN (fast blanking) guna mengambil sinyal pada pin masukan R, G dan B eksternal yang difungsikan sebagai masukan OSD.
Tingkat kontrasnya gambar disesuaikan dengan arus katoda dan nilai tegangan ABL tertentu secara otomatis. Jika arus katoda berlebihan atau nilai ABL mencapai ambangnya, maka output sinyal RGB akan segera dikurangi bahkan hingga dipadamkan. Fasilitas pengaturan ini secara praktis diset melalui bus data I2C melalui pin SDA dan SCL oleh IC program.
Ketika tabung CRT dimatikan, tegangan yang masih ngendon di dalam tabung dapat dihilangkan dengan cepat dengan memberi tegangan kejut sesaat pada masing-masing input RGB pada blok penguat RGB sesaat setelah sinyal RGB tidak ada/hilang. Metode ini sering disebut sebagai CRT discharging yang sering ditemukan pada rangkaian TV saat ini.

BLOK 5 OSILATOR DAN SINKRONISASI

Seperti halnya monitor komputer, perangkat penerima televisi sebenarnya berdasarkan pada prinsip kerja monitor komputer. Perbedaannya adalah pada jenis masukannya. Pada monitor komputer, masukan sudah terpisah untuk tiap sinyal, yaitu warna R, G, B dan sinkronisasi H dan V. Sedangkan pada perangkat televisi sinyal-sinyal tersebut diekstrak dari sinyal CVBS/video yang masuk.
Sinyal sinkronisasi tersebut (H-SYNC & V-SYNC) yang menentukan ukuran gambar yang terdapat dalam sinyal video. Sinyal sinkronisasi ini digunakan untuk mengendalikan atau mensinkronisasi osilator H dan osilator V pada perangkat penampil/display.

Osilator Horisontal dan Vertikal
Blok ini lebih sering disebut sebagai osilator jungle. Osilator adalah perangkat/blok yang berfungsi sebagai pembuat/generator pulsa atau frekuensi dengan frekuensi tertentu. Pada perangkat TV terdiri dari osilator horisontal dan osilator vertical. Osilator-osilator ini bekerja secara free-running yaitu bekerja pada frekuensi tertentu dan dapat berubah frekuensinya dengan toleransi pergeseran yang telah dibatasi. Perubahan frekuensi ini disebabkan karena proses sinkronisasi oleh sinyal sinkronisasi yang dibawa oleh sinyal masukan.
Pulsa keluaran osilator horisontal berbentuk persegi, besar frekuensinya berkisar 16,625Hz dan berubah berdasarkan format video yang akan ditampilkan. Pulsa horisontal ini yang akhirnya dikuatkan oleh blok horisontal output.
Pulsa gigi gergaji pada osilator vertikal digenerasikan dan dikontrol oleh V-RAMP generator (umumnya menggunakan kapasitor VRAMP). Besar frekuensi vertikal tergantung dari jenis/format video masukan antara lain 50, 60 dan 72Hz. Pulsa vertikal ini yang nantinya dikuatkan oleh blok vertikal output.

Pemisah Sinkronisasi
Didalam sinyal CVBS terkandung sinyal sinkronisasi. Sinyal CVBS ini masuk ke pemisah sinkronisasi, tujuannya guna mengambil/mengekstrak pulsa sinkronisasi horisontal dan vertikal. Pulsa sinkronisasi horisontal digunakan untuk mengontrol atau mengunci frekuensi osilator horisontal, begitu juga sinyal sinkronisasi vertikal yang digunakan untuk mengontrol atau mengunci frekuensi output vertikal.
Kerusakan pada blok pemisah sinkronisasi menyebabkan tidak terkuncinya gambar sehingga gambar yang ditampilkan tidak dapat terbentuk atau tidak dapat diam.
Pada desain saat ini, blok pemisah sinkronisasi sudah masuk dalam komponen aktif. Meskipun telah masuk, komponen-komponen aktif tersebut dilengkapi dengan pin phase loop filter (PH1LF, PH2LF), yang tak lain gunanya untuk memfilter penguncian tersebut.
Jika dihubungkan dengan tabung gambar, secara mudahnya, fungsi dari osilator horisontal sebagai pelukis/pembelok pena elektron dari kiri ke kanan (membentuk garis mendatar), sedangkan fungsi dari osilator vertikal sebagai penggeser garis yang telah dilukis oleh osilator horisontal ke atas dan kebawah dalam periode tertentu. Misalnya TV akan menampilkan format gambar sebesar 352 x 288 piksel, 50Hz, berarti horisontal akan membuat garis sebanyak 288 garis dalam periode 1/50 detik (0,02 detik) dan dalam 1 baris tersebut horisontal akan melukis/membelokkan piksel/titik sebanyak 352 kali dengan tingkat akurasi yang tinggi, oleh karena itu dibutuhkanlah sinkronisasi.

Contoh Skema


Secara internal pada IC TDA8841/42/44 terdapat blok osilator jungle dan pemisah sinkronisasi. Keluaran dari blok ini adalah pulsa horisontal dan pulsa vertikal yang akan dikuatkan oleh blok penguat horisontal dan vertikal.
Pemisah sinkronisasi mendapatkan masukan CVBS dari output swith AV yang terhubung secara internal. Keluaran pemisah sinkronisasi ini terdiri dari sinkronisasi horisontal dan vertikal. Masing-masing digunakan untuk mengunci PLL horisontal dan vertikal.
Osilator horisontal pada IC ini bekerja dengan sistem PLL (berbasis VCO) yang terkunci berdasarkan pembandingan dua sinyal yaitu sinyal sinkronisasi horisontal dan sinyal yang berasal dari osilator kristal. Pin PH1_FL merupakan loop filter berfungsi sebagai pengunci frekuensi horisontal berdasarkan sinyal sinkronisasi horisontal. Pin PH2_FL berfungsi sebagai pengunci frekuensi horisontal berdasarkan pulsa dari blok horisontal output yang umumnya diambil dari sekunder FBT. Pulsa ini dimasukkan melalui pin FBISCO (flyback input atau sandcastle output). Koneksi pada trafo FBT untuk fungsi ini umumnya disebut pin AFC. Akhirnya, hasil dari pembandingan 2 loop filter tersebut yang menentukan frekuensi keluaran pada pin H_OUT.
Osilator vertikal atau gelombang gigi gergaji digenerasikan oleh kapasitor V-RAMP pada pin V-SC (vertical sawtooth capasitor), sedangkan frekuensinya dikontrol secara internal oleh sinyal sinkronisasi vertikal. Pin V-IREF merupakan pin yang berfungsi sebagai pengunci amplitudo/level dari gelombang gigi gergaji yang digenerasikan oleh V-RAMP. Akhirnya gelombang gigi gergaji tersebut dikeluarkan melalui 2 pin keluaran vertikal (VDR_A dan VDR_B). Pin-pin output vertikal ini berbentuk differensial, yaitu salah satu sebagai output positif dan satunya lagi sebagai output negatif.
Setiap rangkaian PLL selalu membutuhkan frekuensi referensi yang stabil. Pada blok jungle ini, frekuensi referensi diambil dari kristal chrominance, pin X1 dan pin X2. kristal-kristal hanya bekerja salah satu saja dan secara otomatis terpilih berdasarkan jenis format masukan video.
Untuk mendukung keamanan dan proteksi, IC ini dilengkapi dengan pin EHT yang berfungsi sebagai sensor tegangan lebih (overvoltage) yang dikeluarkan oleh blok penguat horisontal. Jika ada tegangan yang mencapai ambang proteksi, maka osilator akan berhenti.
Penyetelan/ajustifikasi parameter-parameter pada blok ini direalisasikan melalui bus data I2C. Contoh beberapa parameter yang berhubungan dengan blok ini antara lain H-AFC, H-POS, V-SIZE, V-POS, V-LINE dan lain-lain. Kelompok parameter-parameter tersebut umumnya disebut geometry parameters.
Ketika osilator horisontal dan vertikal berhasil terkunci berdasarkan sinyal masukan, IC ini akan mengeset data VIDEO_IDENT pada register internalnya sehingga dapat digunakan oleh IC program untuk mengecek apakah ada video yang masuk atau tidak melalui bus data.
BLOK 4 AUDIO OUTPUT

Sinyal audio yang dihasilkan oleh blok SIF tidak dapat langsung di umpankan ke speaker. Sinyal tersebut harus melalui tahap-tahap penguatan, pemrosesan, limiting dan filtering yang cukup. Tujuan pemrosesan sinyal audio tersebut untuk menjamin bahwa audio yang dihasilkan masih dalam skala yang mudah ditangkap oleh telinga secara natural, jadi semakin natural semakin bagus sistem audio dari perangkat televisi.
Sedangkan fitur-fitur tambahan seperti sub woofer, surround, pengatur nada dan lain-lain hanya sebatas kosmetik dari suatu produk. Meskipun bertujuan sebagai kosmetik, aspek-aspek naturalnya sangat dipertahankan. Dua sistem audio pada televisi yang sering ditemui adalah sistem audio mono dan stereo. Pada sistem stereo, ada yang mengkloning bagian kanan/kiri dengan input mono, ada juga yang murni stereo. Sistem NICAM adalah salah satu contoh sistem stereo murni pada perangkat televisi yang output dari SIF-nya sudah stereo yang kemudian diproses hingga ke speaker dengan menggunakan perangkat yang balance.

Sound Processor (pengatur nada, efek, subwoofer, AVL)

Seperti halnya sistem audio pada umumnya, pada TV juga sering ditemui blok yang berfungsi sebagai pengatur nada, efek (surround) dan subwoofer. IC tipe AN5891K merupakan salah satu IC prosesor audio stereo yang ditargetkan penggunaannya untuk perangkat televisi. Di dalam IC tersebut sudah terdapat fasilitas pengatur nada (bass, treble), volume, super bass (sub woofer), efek (surround) dan AVL. Semua fitur ini dikontrol melalui bus I2C oleh IC program.
Banyak sekali type-type IC yang berfungsi serupa dengan fitur-fitur yang hampir sama juga, misalnya TA1343N, LV1116N (ada tambahan swith audio input), TA7630P (hanya volume, balance dan tone, kontrol analog), TDA7429 dan lain-lain. Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada IC prosesor ini adalah output lemah atau tidak ada dan terdistorsinya audio dengan aktifitas bus data I2C (misalnya terdengar suara tik-tik-tik ketika sedang menaik-nurunkan volume).
Hampir sebagian besar IC-IC prosesor yang dikontrol dengan bus data mempunyai fasilitas AVL (automatic voice leveling) yang berfungsi sebagai audio AGC.

Amplifier dan Speaker

Desain-desain pada sistem audio TV mono pada umumnya tidak menggunakan pengatur nada, yang ada hanya pengatur volume saja. Pengatur volume ini dapat ditemukan dibagian IF dan kadang juga ada yang dibagian amplifier (misalnya AN5265).
Pin4 IC tersebut merupakan pin masukan kontrol volume, semakin tinggi tegangan yang masuk ke pin tersebut, semakin besar penguatannya. Untuk mendukung muting, pin3 berfungsi sebagai muting input.
Dalam desain audio amplifier pada perangkat televisi yang sangat dihindari adalah efek pump-out yang buruk. Efek ini ditimbulkan karena amplifier menarik banyak daya dari power supply, sehingga dapat mengganggu supply tegangan untuk blok-blok yang lain dalam TV. Umumnya efek pump-out ditandai dengan berkendutnya layar/gambar dengan irama mengikuti suara speaker, semakin keras suara, semakin terasa perubahan gambarnya.
Dari sekian banyaknya blok-blok dalam TV, audio amplifier merupakan salah satu blok yang paling rakus terhadap daya jadi desain amplifier dituntut untuk sehemat mungkin penggunaan dayanya hingga tidak menimbulkan efek pump-out yang signifikan.
Tegangan kerja dari amplifier dan impedansi speaker sering ditemukan dalam nilai yang lumayan tinggi, yaitu sekitar 12 s/d 20V dan impedansi speaker 16 ohm, hal ini dimaksudkan untuk menjaga supaya kualitas output dari sistem amplifier seperti yang dikehendaki (natural dan cukup keras) dengan penggunaan daya yang seirit mungkin. Coba bandingkan dengan daya amplifier radio-tape compo, misalnya tegangan 12V dengan beban speaker 4 ohm.
Selain dengan desain amplifier yang ekstra hemat daya tersebut, efek pump-out juga dikurangi dengan pengaturan sistem grounding. Yaitu dengan membuat jalur supply yang terpisah dari blok-blok yang lain, pengaturan ini sangat rumit karena melibatkan desainer jalur pcb yang tidak dengan dihubungkan begitu saja terhadap groundnya blok yang lain.

BLOK 3 AV SWITCH

Fungsi lain peralatan TV dapat digunakan untuk menampilkan audio dan video dari sumber luar, misalnya DVD, VCD dll. Untuk mendukung fungsi tersebut dibutuhkan swith pemindah sumber masukan sinyal yang sering disebut swith AV. Banyak sekali IC swith digital yang dapat difungsikan sebagai swith tersebut karena penggunaan saklar mekanik tidak lagi efektif.
IC-IC tersebut antara lain, ic swith CMOS (misalnya 4052, 4053, 4066 dll) dan IC khusus swith AV, misalnya LA7016, LA7222, M52797SP dan lain-lain. Cara pengendalian/pemindahan swithnya dengan tegangan yang dikontrol oleh IC program dengan 1 atau beberapa bit data dan pada desain yang lebih baru sering ditemukan dengan menggunakan bus data I2C.
Didalam chip TDA8840/41/42/44 sudah terdapat fasilitas swith AV internal, masing-masing adalah swith audio (mono), swith CVBS/video dan swith S-video (Y dan C). Swith-swith tersebut dikontrol dengan menggunakan bus data I2C oleh IC program.

Skema Dasar


Kembali lagi ke artikel VIF/SIF, pada artikel tersebut sudah diulas bahwa output audio yang digunakan melalui pin15 (AUD_OUT), pin ini sebenarnya merupakan output dari swith audio internal dan sudah melalui attenuator (volume control). Sedangkan input/output dari demodulator SIF terhubung langsung secara internal ke masukan swith audio tersebut. Audio eksternal dimasukkan melalui pin2 (EXT_AUD), karena pin15 merupakan output dari sistem attenuator dan sekaligus berfungsi sebagai output dari swith audio, maka sinyal EXT_AUD juga dapat diset atenuasi/volumenya.
Video eksternal terdiri dari 2 jenis masukan yaitu CVBS dan Y/C (S-video). Swith CVBS/video mempunyai 2 input, internal dan eksternal, masukan CVBS internal dihubungkan dengan output CVBS dari VIF. Seluruh kontrol swit dikontrol oleh IC program melalui bus data. Jika IC program tidak memfungsikan masuk S-video, maka pin11 (EXT_CVBS_Y) dapat digunakan sebagai masukan CVBS ketiga (internal, CVBS1 dan CVBS2).
Sinyal video keluaran dari swith video dapat dimonitor melalui pin38 (MON_OUT) yang secara praktis dapat digunakan untuk mengecek masukan mana yang sedang aktif/dipilih. Selain ‘dikeluarkan’ melalui pin monitor, sinyal video yang terpilih tersebut (CVBS_SWITCH_OUT) dimasukkan secara internal menuju blok chrominance dan blok syncronisation yang akan diulas di artikel selanjutnya.
Pada blok swith video ini, terdapat pula blok yang berfungsi sebagai detektor ada tidaknya sinyal video (video detector), outputnya adalah sinyal/data VIDEO_IDENT. Ketika IC program meminta/request status VIDEO_IDENT, maka TDA8840/41/42/44 akan mengirimkan data VIDEO_IDENT tersebut ke IC program.
Contoh fungsi VIDEO_IDENT adalah sebagai detektor ada tidaknya sinyal video, ketika IC program mengetahui tidak adanya video yang masuk, IC program akan menampilkan blue back atau setelah sekian menit masih tidak ada masukan video maka TV akan standby, dalam mode AV sekalipun.